HUT ke-56 MPKW Sumut-Aceh: RE Nainggolan Serukan Gereja Tidak Tutup Mata atas Kemunduran Sekolah Kristen

Dalam perayaan HUT ke-56 MPKW Sumut-Aceh, Dr RE Nainggolan, MM, selaku Ketua MPKW, mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap kemunduran yang dialami oleh sekolah-sekolah Kristen. Penurunan jumlah siswa yang signifikan telah memaksa beberapa institusi untuk menghentikan operasionalnya. Hal ini menimbulkan dilema yang harus dihadapi oleh para pengelola sekolah Kristen, dan menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan.
Pentingnya Peran Gereja dalam Pendidikan Kristen
RE Nainggolan menegaskan bahwa gereja, sebagai entitas yang berperan penting dalam pendidikan Kristen, tidak boleh bersikap acuh tak acuh. Ia menyerukan agar gereja melakukan langkah proaktif dengan menjalin komunikasi dan kerjasama dengan yayasan pendidikan, pengelola sekolah, pemerintah, serta perguruan tinggi. Tujuannya adalah untuk menemukan solusi yang efektif agar sekolah-sekolah Kristen dapat berkembang kembali.
“Gereja harus menyadari dan tidak menutup mata terhadap kemunduran sekolah-sekolah Kristen. Kita perlu berkolaborasi untuk mencari jalan keluar yang konstruktif,” ungkap RE Nainggolan dalam pidatonya pada perayaan yang berlangsung di Aula SMA Methodist 1, Jalan Hang Tuah, Medan, pada tanggal 1 September 2026.
Refleksi dan Komitmen dalam Pendidikan Kristen
Menurut Nainggolan, peringatan ulang tahun MPKW Sumut-Aceh bukan sekadar acara seremonial, melainkan merupakan momen penting untuk melakukan refleksi terhadap perjalanan pendidikan Kristen. Ia juga menekankan perlunya memperkuat komitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan di wilayah Sumatera Utara dan Aceh.
Ia mengajak berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, pimpinan gereja, yayasan pendidikan, hingga kepala sekolah dan perguruan tinggi, untuk memperkuat kerjasama. “Sinergi lintas lembaga sangat penting untuk mengembalikan kejayaan sekolah-sekolah Kristen yang pernah menjadi pilar penting dalam dunia pendidikan,” tambahnya.
Strategi Membangun Kembali Sekolah Kristen
Nainggolan menekankan bahwa kolaborasi yang kuat antara semua pemangku kepentingan dapat memunculkan terobosan yang diperlukan agar sekolah-sekolah Kristen kembali menjadi pilihan masyarakat. Ia percaya bahwa kualitas pendidikan dan karakter yang dibangun oleh sekolah-sekolah ini harus menjadi daya tarik utama.
- Melibatkan masyarakat dalam proses pendidikan.
- Meningkatkan kualitas pengajaran dan pengelolaan sekolah.
- Membangun reputasi positif sekolah Kristen.
- Menjalin kemitraan dengan lembaga pendidikan tinggi.
- Mendorong partisipasi aktif orang tua dan masyarakat.
Kolaborasi yang Diperlukan
Ketua Umum MPK Indonesia, Handi Irawan Djuwari, juga menekankan pentingnya memperluas jangkauan dan membangun kolaborasi yang lebih kuat di usia ke-56 MPKW Sumut-Aceh. Menurutnya, kolaborasi tidak hanya perlu dilakukan dengan gereja, tetapi juga dengan perguruan tinggi, yayasan pendidikan, dan pemerintah. Sinergi ini diharapkan dapat membantu sekolah-sekolah Kristen keluar dari kondisi yang tidak menguntungkan, yang disebutnya sebagai wilayah “3T”: tertinggal, terpuruk, dan terlupakan.
“Di usia 56 tahun ini, MPKW Sumut-Aceh harus mampu bergerak lebih jauh dengan membangun kolaborasi yang solid bersama berbagai pemangku kepentingan,” ujarnya. Handi berharap kolaborasi ini dapat melahirkan langkah konkret dalam memperkuat kelembagaan, meningkatkan kualitas tenaga pendidik, serta memperbaiki tata kelola sehingga sekolah Kristen bisa bersaing di tengah perubahan zaman.
Peran Pemerintah dalam Pendidikan Kristen
Gubernur Sumatera Utara, Bobby Afif Nasution, dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Sumut, Dr Agustinus Panjaitan, MT, menyampaikan bahwa usia 56 tahun adalah perjalanan yang panjang bagi MPKW Sumut-Aceh. Sejak didirikan pada 1 September 1970, MPKW telah menunjukkan komitmen yang konsisten dalam memajukan pendidikan Kristen di daerah ini.
Gubernur juga menggarisbawahi bahwa tantangan dalam dunia pendidikan terus berkembang seiring dengan kemajuan zaman dan teknologi. Oleh karena itu, MPKW diharapkan tetap teguh dalam visi untuk membangun generasi yang beriman, berkarakter, cerdas, dan dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Sinergi antara MPKW dan Pemerintah
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara memandang pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan daerah. Sinergi antara Pemprov Sumut dan MPKW Sumut-Aceh diharapkan semakin kuat untuk menciptakan pendidikan yang dapat memenuhi kebutuhan zaman, serta memperkuat karakter, toleransi, kepedulian sosial, dan persatuan di tengah keragaman.
Rangkaian Perayaan HUT ke-56 MPKW Sumut-Aceh
Perayaan HUT ke-56 MPKW Sumut-Aceh diawali dengan kebaktian yang dipimpin oleh Bishop Methodist Indonesia Wilayah 1, Pdt Antoni Manurung, MTh. Dalam khotbahnya, ia menekankan pentingnya setiap pekerjaan dilakukan dengan sepenuh hati untuk Tuhan, bukan sekadar memenuhi kewajiban organisasi atau jabatan.
Bishop Antoni menekankan bahwa tata kelola yang baik memang membutuhkan sistem dan profesionalisme, namun hal tersebut harus didukung oleh individu yang memiliki motivasi dan hati yang tepat dalam menjalankan tugas mereka. Ia juga menegaskan bahwa sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk memberikan pengetahuan akademik, tetapi juga sebagai wadah untuk menanamkan nilai-nilai Kristiani serta membentuk karakter generasi muda.
Mewujudkan Generasi yang Berkualitas
“Sekolah harus mampu menghasilkan generasi yang cerdas, jujur, disiplin, bertanggung jawab, penuh kasih, dan peduli terhadap lingkungan,” ungkapnya. Ini adalah tugas penting bagi para pendidik dan pengelola sekolah untuk memastikan bahwa nilai-nilai tersebut tertanam dalam setiap siswa.
Dalam acara tersebut, sejumlah tokoh dan pengurus MPKW Sumut-Aceh hadir, antara lain Bonar Sirait sebagai ketua panitia HUT, serta banyak nama lainnya seperti Lewi Jakob, Edward Sitorus, dan Parapat Gultom. Kehadiran para tokoh ini menunjukkan dukungan luas terhadap upaya peningkatan kualitas pendidikan Kristen di kawasan ini.
Dukungan dari Berbagai Pihak
Acara tersebut juga dihadiri oleh Bishop R Simaremare sebagai pimpinan GPP, serta perwakilan dari berbagai lembaga dan institusi pendidikan. Kehadiran mereka menandakan bahwa kolaborasi lintas sektoral sangat diperlukan untuk mendorong kemajuan pendidikan Kristen di Sumatera Utara dan Aceh.
Selain itu, turut hadir pula perwakilan dari Dinas Kesehatan Medan, Rektor Universitas HKBP Nommensen Medan, dan sejumlah undangan lainnya. Ini menunjukkan bahwa berbagai komponen masyarakat memiliki kepedulian terhadap kemajuan pendidikan Kristen dan siap berkontribusi dalam upaya tersebut.
Dengan semangat kolaborasi dan komitmen yang kuat, diharapkan sekolah-sekolah Kristen dapat bangkit kembali dan menjadi pilihan utama bagi masyarakat dalam pendidikan. Momen HUT ke-56 MPKW Sumut-Aceh harus menjadi titik awal untuk mewujudkan perubahan dan perbaikan yang signifikan dalam dunia pendidikan Kristen di Sumatera Utara dan Aceh.




