Terowongan MRT Jakarta Fase 2A Dibatalkan? Ternyata Lebih Murah Naik MRT Langsung!

Pernahkah Anda mendengar kabar bahwa pembangunan terowongan bawah tanah untuk sistem transportasi massal di ibu kota tiba-tiba dihentikan? Informasi ini sempat beredar luas, menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat.

Faktanya, perkembangan konstruksi justru menunjukkan kemajuan yang sangat menggembirakan. Hingga Agustus 2025, progres fisik telah melampaui target yang ditetapkan sebelumnya. Ini adalah kabar baik untuk kemajuan infrastruktur kita.

Rute sepanjang 5,8 kilometer dengan tujuh stasiun baru ini terus dikembangkan. Pembiayaannya didukung oleh kerja sama internasional yang solid. Tujuannya jelas: menciptakan solusi mobilitas yang lebih efisien dan terjangkau bagi warga.

Artikel ini akan mengupas tuntas perkembangan aktual proyek strategis nasional ini. Kami akan memberikan klarifikasi berdasarkan data terbaru dan fakta di lapangan.

Poin Penting

Latar Belakang Proyek MRT Jakarta Fase 2A

Konsep pengembangan kawasan berorientasi transit menjadi pembeda utama dalam tahap ini. Pendekatan ini mengubah cara pandang terhadap pembangunan infrastruktur transportasi.

Konsep Transit-Oriented Development dan Inovasi Infrastruktur

Transit-Oriented Development (TOD) merupakan terobosan dalam perencanaan kota. Konsep ini tidak hanya fokus pada infrastruktur stasiun saja.

Kawasan sekitar stasiun dirancang sebagai pusat aktivitas terpadu. Fungsi transit diintegrasikan dengan kegiatan ekonomi, sosial, dan ruang publik.

Tahap Pembangunan Koridor Panjang Status
Fase 2A Bundaran HI – Kota 5,8 km Dalam Pembangunan
Fase 2B Kota – Ancol Barat 5,2 km Studi Kelayakan
Fase 1 Lebak Bulus – BHI 15,7 km Beroperasi

Pembangunan dengan pendekatan TOD menciptakan lingkungan yang berkelanjutan. Akses terhadap transportasi publik menjadi lebih optimal bagi masyarakat.

Sejarah Perencanaan dan Keputusan Pembangunan

Dasar hukum proyek ini dimulai dengan Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 1728 Tahun 2018. Dokumen ini menetapkan lokasi pembangunan jalur transportasi massal.

Provinsi DKI Jakarta memiliki visi besar untuk mobilitas perkotaan. Infrastruktur transportasi publik dirancang untuk mengurangi ketergantungan kendaraan pribadi.

Pembangunan fase ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah. Kualitas hidup masyarakat menjadi prioritas utama dalam perencanaan.

Detail Pembangunan dan Pekerjaan di MRT Jakarta fase 2A

Detail teknis pembangunan jalur bawah tanah mengungkap kompleksitas dan kecanggihan engineering yang diterapkan. Proyek ini menghadirkan solusi transportasi modern dengan pendekatan terintegrasi.

Jalur Utama, Terowongan, dan Profil Stasiun

Jalur sepanjang 5,8 kilometer menghubungkan tujuh stasiun bawah tanah dengan karakteristik unik. Stasiun Thamrin menjadi yang terpanjang dengan panjang 455 meter.

Area komersial seluas 200 meter disiapkan di stasiun ini. Terowongan bertingkat antara Stasiun Harmoni dan Stasiun Glodok menjadi inovasi teknik pertama di Indonesia.

Paket Kontrak dan Progres Pekerjaan

Pembangunan dibagi dalam beberapa paket kontrak dengan progres yang berbeda-beda. Setiap paket memiliki target penyelesaian tertentu.

Paket Kontrak Pekerjaan Progres (%) Target Selesai
CP201 Terowongan & Stasiun Thamrin-Monas 89,25 2027
CP202 Stasiun Harmoni-Mangga Besar 57,19 2029
CP203 Stasiun Glodok-Kota 76,98 2029
CP205 Sistem Perkeretaapian 22,84 2027

Paket CP206 untuk rolling stock sedang dalam proses market sounding. Sementara CP207 untuk automatic fare collection system menunggu klarifikasi dokumen tender.

Teknologi Persinyalan dan Operasional Kereta

Sistem kendali kereta berbasis komunikasi digunakan dengan operasi otomatis level 2. Teknologi ini sama dengan yang diterapkan pada fase sebelumnya.

Kapasitas angkut diperkirakan mencapai 551 ribu penumpang per hari. Waktu perjalanan dari Lebak Bulus hingga Kota hanya 45 menit.

Implikasi Pembatalan dan Alternatif Naik MRT Langsung

Klaim tentang dibatalkannya pembangunan jalur bawah tanah tidak sesuai dengan realita di lapangan. Proyek infrastruktur ini justru menunjukkan kemajuan signifikan dengan progres melebihi target.

Faktor di Balik Isu Pembatalan Terowongan

Isu penghentian pekerjaan muncul dari miskomunikasi tentang penyesuaian teknis. Perubahan kecil dalam tahap konstruksi merupakan hal wajar dalam proyek besar.

Penyesuaian jadwal dan metode kerja sering disalahartikan sebagai pembatalan. Faktanya, optimisasi terus dilakukan untuk efisiensi biaya dan waktu.

Jenis Transportasi Biaya Perjalanan Waktu Tempuh Kenyamanan
Kendaraan Pribadi Rp 50.000-100.000 60-90 menit Terbatas karena macet
Transportasi Publik Terintegrasi Rp 10.000-20.000 30-45 menit Tinggi dengan fasilitas lengkap
Taxi/Online Rp 40.000-80.000 45-75 menit Sedang, tergantung kondisi jalan

Dampak pada Transportasi dan Perubahan Pilihan Moda

Pembangunan ini menghadirkan solusi mobilitas yang lebih ekonomis. Masyarakat dapat beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan massal.

Penataan kawasan mencakup pelebaran trotoar dan jalur sepeda. Setiap stasiun dilengkapi rak sepeda dan area drop-off yang terintegrasi.

Halte BRT Transjakarta akan terhubung langsung dengan akses masuk. Gedung-gedung komersial juga terintegrasi untuk kemudahan penumpang.

Perubahan pola mobilitas ini mendorong penggunaan transportasi ramah lingkungan. Dampaknya mencakup pengurangan kemacetan dan peningkatan kualitas hidup.

Kesimpulan

Perkembangan aktual proyek strategis nasional ini memberikan gambaran optimis tentang solusi kemacetan ibukota. Isu pembatalan terowongan tidak berdasar sama sekali. Justru, pembangunan berjalan sangat baik dengan progres mencapai 52,27 persen per Agustus 2025.

Transportasi massal ini menjadi solusi ekonomis bagi masyarakat DKI Jakarta. Paket kontrak CP201 untuk Stasiun Thamrin sudah mencapai 89,25 persen. Dua segmen pembangunan memiliki target jelas: segmen pertama selesai 2027 dan kedua pada 2029.

Investasi Rp25,3 triliun dari kerja sama Indonesia-Jepang menunjukkan keseriusan pemerintah. Pekerjaan di berbagai area terus berjalan, termasuk ekskavasi tanah dan proses lelang pengadaan. Studi menunjukkan probabilitas tinggi masyarakat akan beralih ke transportasi publik.

“Lebih murah naik MRT langsung” bukan sekadar slogan. Ini adalah realitas yang akan segera dinikmati ketika seluruh stasiun beroperasi penuh. Masa depan transportasi Jakarta semakin cerah dengan tambahan beberapa kilometer jalur baru.

Exit mobile version