Murid Kelas V Korban Dugaan Pelecehan di Palopo Belum Kembali ke Sekolah, Oknum Guru Ditarik ke Dinas Besok

Di Palopo, Sulawesi Selatan, sebuah insiden mencemaskan terjadi di kalangan siswa Sekolah Dasar. Seorang murid kelas V dilaporkan menjadi korban dugaan pelecehan oleh seorang guru olahraga berinisial AH. Hingga saat ini, anak tersebut belum kembali ke sekolah, terpengaruh oleh rasa takut yang mendalam untuk bertemu dengan guru yang telah dilaporkan oleh orang tuanya ke pihak kepolisian.

Situasi Terkini Korban

Korban, yang saat ini masih merasakan trauma dari kejadian tersebut, mengalami kesulitan untuk berpartisipasi dalam kegiatan belajar. Rasa takut yang mendalam membuatnya enggan untuk kembali ke sekolah. Ketidaknyamanan ini berakar dari pengalaman traumatis yang dialaminya, di mana ia khawatir akan berpapasan dengan guru yang diduga melakukan pelecehan tersebut.

Proses Hukum yang Berlangsung

Orang tua korban, yang dikenal dengan inisial Kr, melaporkan kasus ini kepada pihak kepolisian di Satreskrim Polres Palopo pada tanggal 10 September 2026. Laporan itu terdaftar dengan nomor LP/B/464/IX/2026/SPKT/Polres Palopo/Polda Sulawesi Selatan. Tindakan ini diambil setelah anaknya menceritakan pengalaman yang menyedihkan kepada mereka.

Pernyataan Orang Tua

Kr menyatakan, “Anak saya sebenarnya sudah bersekolah dua hari setelah kejadian, tetapi saat ia melihat guru tersebut, dia merasa tidak nyaman dan tidak mau kembali. Saya sudah menemaninya seharian di sekolah, namun dia tetap menangis dan menolak pergi.”

Langkah dari Dinas Pendidikan

Menanggapi situasi ini, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kota Palopo, Syamsul Alam, mengungkapkan komitmen pihaknya untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan kondusif. Dalam pernyataannya, Syamsul menyebutkan bahwa guru berinisial AH akan ditarik sementara dari sekolah dan dipindahkan ke Dinas Pendidikan sampai proses hukum berjalan dengan jelas.

“Kami harus berhati-hati dalam mengambil langkah. Penarikan ini adalah langkah awal untuk memastikan situasi tetap aman. Kami tetap berpegang pada prinsip praduga tak bersalah,” tambah Syamsul saat dihubungi melalui telepon.

Status Penarikan Guru

Menurut Syamsul, proses administratif untuk menarik guru tersebut telah dimulai. Surat keputusan terkait penanganan AH telah diproses di Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Palopo beberapa waktu lalu. “Kami berharap pada hari Senin, guru tersebut sudah dipindahkan ke dinas,” ujarnya.

Detail Dugaan Pelecehan

Kasus dugaan pelecehan ini menjadi sorotan setelah orang tua korban melapor ke pihak berwajib. Kr menggambarkan bagaimana peristiwa yang dialami anaknya terjadi pada Rabu, 9 September 2026. Korban yang dikenal dekat dengan guru olahraga tersebut mungkin tidak menyadari risiko yang dihadapinya saat berinteraksi dengan AH.

Kronologi Kejadian

Peristiwa tersebut bermula ketika korban sedang bermain dengan teman-temannya di sekolah. Ia meminta sejumlah uang kepada AH, dan bukannya memberikan yang diminta, AH menawarkan uang yang lebih besar, yaitu Rp5.000, namun dengan syarat korban harus datang ke area dekat gudang sekolah.

Pengakuan Korban

Setelah kejadian tersebut, korban kembali ke kelas dan mulai menceritakan kepada teman-temannya tentang apa yang dialaminya. Cerita ini kemudian sampai ke telinga kakaknya sebelum akhirnya diketahui oleh Kr. “Saya langsung menemui anak saya setelah mendengar cerita itu. Ia menangis saat diajak berbicara mengenai kejadian tersebut,” ungkap Kr.

Respon Emosional dan Keputusan Orang Tua

Kr mengaku sangat prihatin dengan keadaan anaknya. Setelah mendengarkan cerita yang menyedihkan dari putrinya, ia merasa harus mengambil tindakan. “Ketika saya mendatangi anak saya di kamarnya, saya mengelus kepalanya dan mengajaknya bercerita. Ia menangis, sehingga saya tidak ingin mengorek lebih dalam saat itu,” jelasnya.

Dengan mempertimbangkan kondisi emosional anaknya, Kr akhirnya memutuskan untuk melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib. Ini adalah langkah penting untuk memberikan keadilan bagi anaknya dan mencegah hal yang sama terjadi pada siswa lainnya.

Pentingnya Kesadaran dan Tindakan Preventif

Kasus ini menunjukkan betapa pentingnya kesadaran akan isu pelecehan di lingkungan sekolah. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman untuk belajar, namun insiden seperti ini menggarisbawahi perlunya tindakan preventif dan edukasi bagi siswa, orang tua, dan tenaga pendidik.

Langkah-langkah yang Harus Diambil

Beberapa langkah yang dapat diambil untuk menangani dan mencegah pelecehan di sekolah meliputi:

Harapan untuk Masa Depan

Di tengah situasi sulit ini, penting untuk terus memberikan dukungan kepada korban dan keluarganya. Harapan agar anak tersebut dapat kembali ke sekolah dengan aman dan merasa terlindungi adalah prioritas utama. Dinas Pendidikan dan pihak berwenang diharapkan dapat bekerja sama untuk memastikan bahwa kejadian serupa tidak terulang lagi.

Keberanian orang tua korban untuk melapor adalah langkah penting dalam perjuangan melawan pelecehan di sekolah. Ini adalah pengingat bagi kita semua untuk tetap waspada dan berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak kita.

Exit mobile version