KID Events

No events

KID on Map

Testimonial

KID Lunch Lecture IV 2007

Print PDF

Air dewasa ini menjadi isu yang mengemuka ketika ketersediaanya menjadi problematik sejalan dengan munculnya bencana alam banjir di saat musim hujan dan kekeringan disaat musim kemarau. Di lain sisi, muncul ketegangan antar pihak dengan memunculkan argumentasi masing-masing mengenai hak untuk mendapatkan dan atau mengelola sumberdaya air yang ini mulai dirasa terbatas baik itu untuk kepentingan luas maupun pribadi (baca: bisnis). Ketegangan tambah meningkat tatkala melibatkan sumber daya uang yang besar dan para pihak yang terlibat di dalamnya; kerugian akibat bencana banjir yang kemudian membutuhkan dana jutaan dolar untuk mengelolanya, pemodal yang melakukan investasi dengan melihat air mempunyai nilai ekonomis. Pada akhirnya siapa yang diuntungkan dari adanya pengelolaan sumber daya air ini? Dan bagaimana mana mencari solusi yang berkeadilan? Apakah demokrasi menjadi salah satu intrumen untuk memecahkan masalah?

Kira-kira demikian salah satu problematika yang mengemuka dalam kuliah umum yang disampaikan oleh Emil Salim dan Raja Siregar bertema Air dan Demokrasi dengan moderator Ignas Kleden di kantor Komunitas Indonesia untuk Demokrasi pada tanggal 18 Juni 2007.

Pokok pikiran dari Emil Salim berkenaan dengan tema tersebut adalah sebagai berikut:

SUPLAI AIR
Suplai air dipengaruhi oleh:

  1. Curah hujan, intensitasnya di musim hujan;
  2. Komposisi tanah pengaruhi daya serap hujan;
  3. Vegetasi tutupan tanah, hutan, bina mata air;
  4. Daerah aliran sungai, rendahnya sedimentasi;
  5. Suhu udara, kadar kekeringan, evaporasi air;
  6. Pencemaran laut hambat penguapan air;
  7. Intervensi manusia bangun waduk besar yg pengaruhi kesediaan air tanah;

PERMINTAAN AIR
Permintaan air dipengaruhi oleh:

  1. Jumlah penduduk perlu air minum, mandi, dll;
  2. Keperluan pertanian berbasis air (gula, padi);
  3. Keperluan tambak ikan;
  4. Industri, energi dan transportasi;
  5. Penampungan limbah cair dan padat;
  6. Frekuensi kebakaran dan kerusakan alam;
  7. Intensitas kekeringan musim kemarau;

PASAR GAGAL BERFUNGSI

  1. Faktor yg pengaruhi suplai dan permintaan air tidak tertangkap oleh pasar, sehingga “harga” tidak cerminkan tingkat ekuilibrium efisien;
  2. Air dianggap sebagai kebutuhan pokok pemberian alam yg tak punya nilai ekonomi;
  3. Alokasi air hadapi konflik antara fihak berbeda kepentingan dlm gunakan air utk konsumsi versus produksi, yg bisa bayar versus miskin;
  4. Teknologi menyuling air-laut dianggap mahal, cegah perubahan iklim tidak menguntungkan;

ALOKASI AIR DAN POLITIK

  1. Karena pasar tak berfungsi, air dialokasikan menurut kebijakan Pemerintah didukung oleh “tulang-punggung” partai & kelompok interes;
  2. Pemerintah RRT mengikuti kehendak Partai Komunis; India maunya Partai Kongres; Malaysia ikuti UMNO; US ikuti Kongres-Senat; UK ikuti Parlemen dlm beda pola demokrasi;
  3. Semakin “kokoh” demokrasi semakin besar kelompok interes yg menang pemilu tentukan alokasi resources alam, termasuk air;

ALOKASI AIR & JANGKA WAKTU

  1. Negara berkembang kembangkan demokrasi yg menekankan “ideologi” berbasis kharisma tokoh pemimpin. RRT masa Mao berbeda dgn RRT Masa Deng Xiaoping; India masa Nehru berbeda dgn masa Gandhi;
  2. Alokasi air dipengaruhi oleh orientasi komitmen tokoh pemimpin berkharisma & bertahan lama. Semakin pendek daya survival pemimpin, air teralokasikan utk capai sasaran jangka pendek;
  3. Air dilihat sebagai komoditas lepas dari ekologi; 

DI BALIK KRISIS AIR

  1. Politik & ekonomi perlakukan air sebagai obyek utk dieksploitasi demi kemaslahatan & interes pemilih jangka pendek;
  2. Air tidak diperlakukan sebagai  unsur jejaring eko-sistem alami dan dieksploitasi dengan orientasi anthropo-centris;
  3. Air = bahan gratis bebas utk disedot tanpa kewajiban melestarikan sustainabilitasnya;
  4. Air dikuasai jadi komoditas politik bertujuan “raih power” tanpa pedulikan fungsi alaminya;

UBAH PARADIGMA AIR

  1. Air = bagian jejaring eko-sistem pengaruhi semua yg dikaitkannya. Mata rantai jejaring eko-sistem perlu lestari sustainabilitasnya;
  2. Masyarakat = modal sosial membentuk jejaring “masyarakat kekitaan”.Semakin akrab ikatan jejaring, semakin kaya modal sosial;
  3. Keberlanjutan air dan manusia perlukan perpaduan kedua jejaring air dan masyarakat;
  4. Air bukan lagi komoditas ekonomi & politik tetapi pengikat jejaring kehidupan;

UBAH PERPOLITIKAN DEMOKRASI

  1. Survival masyarakat bergantung kini pada trilogi keberlanjutan: ekonomi (pro-miskin), sosial (masyarakat kekitaan) dan ekologi (keberlanjutan fungsi life support system);
  2. Trilogi memerlukan tumpang-tindih 3 lingkar jejaring ekonomi, sosial dan ekologi ditopang demokrasi berorientasi pada “formasi 3 lingkar jejaring” utk sustainabilitas hidup manusia tanpa kemiskinan, over-powering penguasa & tanpa air sebagai proxi dari rusaknya ekologi

AGENDA BANGSA

  1. Arus-tengahkan trilogi sustainabilitas ekonomi sosial & ekologi dlm pembangunan bangsa;
  2. Utamakan bangun keutuhan jejaring ekonomi, sosial & lingkungan ditopang kekuatan unsur pemerintah, pengusaha & masyarakat madani
  3. Demokrasi mencakup demokrasi sosial politik, ekonomi & ekologi, dgn menyalurkan ketiga-tiga aspirasinya dlm pembangunan;
  4. Tolok-ukur keberhasilan: tingginya indeks-pembangunan manusia ditopang tulang-punggung kelompok interes trilogi sustainabilitas pembangunan dlm alam lestari dgn air alami jernih;

Related Links

Contact us

Komunitas Indonesia untuk Demokrasi
Jl. Tebet Barat Dalam X No. 23
Tebet, Jakarta Selatan
Tlp. 021 8314468 / 021 837 89 381

Email info@komunitasdemokrasi.or.id